Membina Perilaku Politik Santun Sejak Dini

December 29th, 2012 | by Penulis Artikel |

Di Indonesia saat ini, harus diakui bahwa segala hal yang memiliki embel-embel politik biasanya disikapi masyarakat sebagai sesuatu yang kotor, tidak bermoral dan tidak membanggakan. Para tokoh politik sering dianggap sebagai figur-figur yang serakah, terlalu ambisius dan tidak memiliki kompetensi serta kepribadian yang pantas sebagai negarawan; hal ini tercermin dalam berbagai insiden seperti anggota DPR yang beradu fisik dan saling mengejek dalam rapat serta korupsi dan perilaku suap yang seperti tidak ada habisnya dalam tubuh lembaga kenegaraan. Padahal, yang disebut politik sendiri sebenarnya adalah segala hal yang ada kaitannya dengan pemerintahan dan proses pengaturan sebuah kelompok, mulai dari sebuah negara, instansi, organisasi, kelompok masyarakat, hingga unit terkecil yaitu keluarga. Politik yang dilaksanakan secara bijak dan santun bisa disamakan dengan jalan raya yang mulus dengan kendaraan yang semuanya menuruti rambu lalu lintas, sementara yang melanggar segera ditindak sesuai kesalahannya. Dengan demikian, politik sebenarnya hal yang baik dan patut dipelajari serta diterapkan, terutama politik santun.

Cara Membentuk Perilaku Politik Santun

Jika kita menilik pengertian luas politik sebagai suatu cara mengatur sebuah kelompok, maka kita bisa bilang bahwa sebuah unit keluarga pun menerapkan unsur-unsur dan perilaku politik, seperti pembagian hak dan kewajiban serta pengambilan keputusan. Dengan demikian, perilaku politik santun dapat dibiasakan di dalam lingkungan keluarga dan menjadi dasar bagi anggotanya untuk belajar berperilaku di tengah-tengah kelompok lain seperti di sekolah dan tempat kerja atau sebagai anggota masyarakat dari suatu negara. Berikut adalah beberapa cara membentuk perilaku politik santun sejak dini:

1. Tanamkan kebebasan berpendapat berbarengan dengan kewajiban untuk bersikap sopan dan menghargai pendapat pihak lain dalam keluarga. Orangtua bisa mengajarkan anak untuk tidak berkata-kata kasar saat mereka bertengkar dengan saudara atau anak lain dan meminta anak menjelaskan kejadiannya terlebih dahulu, alih-alih langsung menghukum tanpa mendengarkan.

2. Tanamkan prinsip tanggung jawab pada anak. Misalnya, anda bisa membuat anak berperilaku disiplin dengan membereskan sendiri mainannya setelah bermain, menyelesaikan PR sebelum menonton TV atau membereskan tempat tidur sendiri setelah bangun. Berikan pujian ketika anak melakukannya di kali pertama, namun jangan seterusnya agar anak tidak terbiasa selalu mengharap imbalan setelah melakukan sesuatu yang memang adalah kewajibannya.

3. Ketika anda menghukum anak anda karena melakukan kenakalan, misalnya dengan cara tidak mengijinkannya bermain atau melarangnya makan permen selama beberapa hari, anda harus menjelaskan mengapa anda menghukumnya. Misalnya, anda bisa bilang “mama melarangmu bermain di luar hari ini karena memukul adikmu dengan mobil-mobilan sampai menangis dan tidak mau minta maaf.” Tanggung jawab dalam menerima hukuman juga adalah bagian dari perilaku politik santun.

Tags: ,

Share |

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Hei Kak, Ada yang bisa kami bantu?