Mencegah Obesitas di Tiap Tahap Perkembangan Bayi

December 29th, 2012 | by Penulis Artikel |

Anda mungkin berpikir bahwa kebiasaan yang menjurus pada obesitas merupakan perilaku yang baru dipelajari seseorang ketika remaja atau sudah menjelang dewasa. Akan tetapi, hal tersebut sebenarnya keliru, karena obesitas di masa dewasa ternyata dapat dipengaruhi dari kebiasaan makan yang dibawa sejak kecil termasuk di berbagai tahapan perkembangan bayi. Diakui atau tidak, banyak sekali perilaku orangtua terhadap anak yang walau nampaknya baik atau tidak bermasalah namun sebenarnya cukup berbahaya karena bisa menjurus pada kondisi kesehatan sebagai obesitas. Contohnya adalah orangtua yang menganggap bayi yang sangat gemuk sebagai ‘lucu dan menggemaskan,’ memiliki kebiasaan memberikan susu formula dengan kandungan gula berlebih pada anak, memberikan makanan manis berlebih pada anak dengan alasan masih kecil, dan sebagainya. Walaupun kesannya baik, perilaku-perilaku ini pada akhirnya dapat membentuk pola makan tidak sehat yang bisa terbawa hingga dewasa dan membuat anak mengalami obesitas dini.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mencegah obesitas bahkan di berbagai tahapan perkembangan bayi:

1. Pada usia 0-24 bulan pertama, jangan pernah lepaskan ASI dan menggantinya dengan susu formula, kecuali jika anda tidak bisa menyusui karena suatu kondisi medis. Anda dapat menggunakan alat pemompa ASI atau mencari keterangan tentang donor ASI. Jika masih tidak menemukan cara untuk memberi ASI padahal anda tidak bisa menyusui, cobalah susu kambing atau susu formula yang tidak mengandung fruktosa atau glukosa berlebih.

2. Pada usia 6 bulan, ketika anak sudah bisa diberi makanan pendamping ASI sebagai makanan padat pertamanya, usahakan jangan langsung berpaling ke bubur bayi buatan pabrik. Cobalah membuat sendiri makanan bayi berupa bubur lumat dari pisang atau pepaya segar yang bisa dicampur dengan sedikit kacang hijau rebus. Membiasakan bayi memakan makanan segar dengan rasa alami dapat membuat lidahnya mengenal berbagai tekstur dan rasa alami makanan. Jika sudah lebih besar, anda akan mudah membujuk anak untuk makan makanan segar ketimbang makanan yang sudah diproses.

3. Ketika bayi sudah mulai tumbuh gigi, orangtua terkadang membiarkan anak mencoba makanan seperti potongan keik atau bolu yang manis. Sebaiknya anda jangan terlalu sering membiarkan anak memakan makanan manis dan terlalu banyak lemak sejak dini; jika anda ingin anak melatih giginya, beri saja biskuit bayi yang kandungan nutrisinya memang sudah diperhitungan agar cocok untuk bayi. Makanan untuk orang dewasa tidak semuanya diberikan di tengah tahapan perkembangan bayi.

4. Sejak anak mulai memakan makanan padat, usahakan jangan pernah memaksa mereka menghabiskan makanan jika memang tidak sanggup. Ada anak-anak yang susah makan sehingga harus dipaksa, tetapi ada juga orangtua yang tidak menyadari jika mereka sudah memberi porsi makan terlalu banyak dan memaksa anak yang sudah kekenyangan untuk makan sampai habis. Dalam hal ini, anda harus lebih bijak.

5. Jangan berlebihan memberi gula pada makanan anak dan jangan kebiasaan membujuk anak yang menangis dengan makanan manis. Gunakan cara lain tetapi jangan pernah memberi makanan untuk membujuk anak; hal ini akan membuat anak belajar untuk melupakan kesedihan dan kecemasan dengan makanan.

Selain mengembangkan kebiasaan makan sehat di tiap tahapan perkembangan bayi, orangtua juga bisa membentuk disiplin diri dengan tidak terlalu banyak menyimpan makanan manis di rumah. Hal ini akan lebih memudahkan untuk mendidik anak agar tidak terlalu banyak mengonsumsi makanan manis sehingga beresiko mengalami obesitas.

Tags: , ,

Share |